Rab. Feb 24th, 2021

LAPOR PAK POLISI, ADA KASUS DUGAAN PUNGLI YANG DILAKUKAN OKNUM PENGURUS BEDAH RUMAH

 

 

 

Bantuan stimulan Perumahan swadaya (BSPS) desa tanjung agung,  kec. Teluk pandan,  kab. Pesawaran diduga disunat oknum ketua kelompok setempat. (foto: doc/red)

 

 

 

Masyarakat : Tolong Pak Bupati Dendi Bantu Kami. 

 

 

 

 

Pesawaran,  DataPost  –  Dimasa pandemi covid-19 semua sektor terdampak sulit perekonomian, kondisi di mana negeri lagi menghadapi musibah wabah COVID, tentu sangat berharap bahwa tidak ada perilaku-perilaku korupsi yang terjadi dalam kondisi yang serba susah seperti ini. Berbeda yang terjadi didesa Tanjung Agung kecamatan Teluk Pandan,  kabupaten Pesawaran, oknum ketua kelompok dan pengurus program Bantuan stimulan Perumahan swadaya (BSPS) tahun 2020  diduga memotong Rp. 500 Ribu per penerima bantuan bedah rumah.

 

Berdasarkan informasi dari warga penerima bantuan BSPS/ Bedah Rumah yang namanya tidak ingin ditulis pada koran ini menceritakan adanya  pemotongan uang sebesar Rp. 500 ribu per penerima, dari jumlah keseluruhan 152 penerima bantuan BSPS desa tanjung agung kec. Teluk pandan,  kab. Pesawaran. (11/1/21)

 

“saya dapat bantuan bedah rumah, senilai Rp. 17,5 juta, dengan rincian barang material senilai Rp. 15 juta, sudah saya terima.  Dan sisanya Rp. 2,5 juta untuk upah tukang, baru dicairkan dan dipotong Rp. 500 ribu, oleh oknum pengurus, jadi yang saya terima hanya Rp. 2 juta”,  Ujar warga sedih.

 

Lanjut warga “pemotongan Rp. 500 ribu dilakukan oleh oknum pengurus tiap kelompok, bayangkan pak(media.red) kalo Rp. 500 ribu dikali 152 penerima sudah berapa uangnya. Tanya warga, saya minta kwitansi pemotongan kepada pengurus tidak diberikan, kata pengurus uang pemotongan ini untuk orang pusat, saya tanya pusat mana?  Tidak dijawab oleh oknum yang memotong dana tersebut”.

 

Keterangan warga yang berbeda, “saya mah, ikut aja pak(media.red) namanya kami orang kecil dipotong ya diam,  sioknum yang memotong dana itu juga mengancam kami, jangan cerita kemana-mana ya,  kalo uang ini kami potong untuk orang atas, ucap warga menirukan kata-kata sipemotong uang tersebut” pinta warga kepada wartawan jangan dicantumkan nama kami pak(media.red) dalam berita.
Saat dikonfirmasi kebenaran berita tersebut pewarta berusaha menelusuri ketua kelompok,  Fadil,  sahlan, wiwin dan suhada, masing-masing ketua kelompok tersebut tidak bisa ditemui untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

 

Pewarta berusaha konfirmasi  kepala desa tanjung agung (abdul wasi) melalui Handpone (HP)  tidak aktif,  hingga berita ini diterbitkan.

 

Bahkan beberapa sumber kadus (kepala dusun)  juga yang enggan namanya di korankan membenarkan kalau biaya untuk ongkos tukang  yang seharusnya Rp. 2,5 juta rupiah, tetapi yang di terima oleh masyarakat hanya Rp.  2 juta rupiah.

 

Kejadian tersebut sangat di sayangkan, untuk itu pihak berwajib atau instansi  terkait segera turun ke TKP dan di proses secara hukum, serta hak-hak masyarakat di kembalikan. (herni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *